Minggu, 21 April 2013

kumpulan suara hati

lagi...

Materi menghantuiku di kesulitan ini
Mereka merajai di kekhilafan yg menunggu pagi
Langkah itu melompat2 riang memanggil lirih
Aku menangis di hatiku yg putus asa

Kau ada dan memang ada
Ini dosa....
Deretan warna merah ini memaklumi ku yg sempoyongan
Tingkat pemikiran ini menghujamku
Membawaku ke masa dimana semua hujau membara

Ingin kembali namun rasa hancur pasti terlihat
Ingin mati tapi kau memanggilku memaksa aku pulang
Aku pasti pulang
Aku pasti terhanyut

Ada 4 hati yg bersarang di pelaminan berwarna itu
Ada 2 dunia yg kering dan tak bisa d perbaiki
Aku bukan perumpamaan
Ini jalanNya

Pernah sempat rindu kesucian menuntun ku
Dulu pernah tak kuasa menolak kewajibanMu
Mengalir dalam riak angan yg melambung
Dan tersangkut di cahaya mentari sore hari

Ada bagian kecil yg terlupakan
Ada doa terselit diantara haramnya darah ku
Ada sedikit k alfaan ketika bersimpuh
Ingin mati saja bersama keheningan

Aku dan setiap keheningan lagu ini
Mencoba menabur angan
Aku dan setiap ke terpurukan ini tersenyum
Terbesit rasa tak percaya oleh semua yg ada

Aku bukan boneka monyet yg kadang menyusahkan
Aku juga masih merasakan kecupan kehidupan yg menganga
Aku disini dengan aroma kopi basi tadi pagi
Aku melihat setiap kolong dari kursiMu

Ini situasi yg di buat oleh peluh yg bercucuran
Ketika kau ada di atasku
Memahami ke indahan rasa yg semua hanya nfsu
Yg dari dulu begitu2 saja

Jangan kalian lihat aku sebagai aku
Membuka dunia baru dari semua yg ada
Melihat nuansa biru di dominannya merah jambu
Yg ada hanya abu2 dan kelabu

Menunggu janji dari kehidupan yg masih blum di mengerti
Menunggu ke baikan dari hati penyihir cinta
Menanyakan nasip
Menanyakan bengkak nya hari ini

Ada dalam hati ini kebahagiaan yg tertindas
Ada dalam hati ini keinginan membunuh ke sendirian ku
Aku yg selalu sperti ini
Aku yg memang dr dulu tak punya sahabat

Pengap perasaan ini
Basah yg tadinya di iringi rintik kemaluan mu
Aku melihat
Aku terbuai

Adalah kamu dalam kehancuranku
Segera kembali
Segera mati
Segera tersdar aku hanya mainanmu yg sudah tak zaman lagi




kosong
Aku sudah tidak punya rasa
Semua hilang di telan mistik yg merajai
Aku bukan gaib
Nyata, terasa, dan pasti binasa

Barisan angka dalam kesendirian ku melekat
Menunggu jari2 ini menunjuk
Jemuran dimalam hari ini menemaniku besama tetesan keringat di salam sholatku
Tadi siang di rumahMu

Disini menemani ari2ku yg mungkin sudah kering
Disini dengan hujatan para pembenar
Melihat tingkahku dari hijaunya langit di tengah hari
Memelukku seolah aku masih di bawah pusarmu

Melihat tumpukan kringat hasil kerja dari muda
Pandai yang engkau mau
Tak pernah terwujud ketika lembaran Raport masalalu menganga
Foto2 itu membiusku menuntun ku

Hendak reinkarnasi dari yg dulunya manusia
Menjadi tumpukan sendal jepit yg selalu hilang di subuh hari karena basah
Aku masih bicara tentang aku

Mentah....
Dan tidah akan pernah dewasa
Hijau dan busuk disini
Melawan yg kolotnya tak terperih

Aku merasa tidak terkalahkan oleh undur2 yg berjalan mundur
Aku merasa hebat sementara di sekelilingku hanya larva nyamuk yg hina
Akubagai kan jeruji jari2 speda karat yg menunggu giliran di bawah
Menamaksa dan perlu tenaga untuk kembali ketatas dan akhirnya memang berputar lagi

Tempat sampah merah mungkin jadi inspirasi
Dia lebih berguna
Menjadi onggokan dan pertemuan antara barang2 yg tak berguna
Aku masih bicara tentang aku

Dunia sana menunggu
Alam sama berharap
Aku bisa ada di lantai dua rumahnya yg bersih dan bergema
Aku sendiri berharap bisa menghentikan waktu
Dan memilih siapa saja yg boleh ada. Dan menari di samping kiri kananku

Entah ini fase apa dalam kehidupan wayang
Dengan dalang yg dulu kolot bersenjata sendal terbang
Aku kalah 10 langkah
Aku jauh tertinggal 100 kata

Ada persamaan dari dirinya
Namun 1000 perbedaan dari luarsana
Aku masih bicara tentang aku
Sekarang, disini, disini dan disini
 


Menjadi yang di adili 

Sendiri memaknai jalan kepenatan ini
Terbaring d antara curamnya usia yg beranjak
Terbangun diantara bangkai keturunan sedarah
Menangis pun sudah ta' pasrah lagi

Aku masih ada tapi melayang antara hidup dan mati
Aku masih bernafas tapi merintih mencari udara
Aku yang berselimut kulit ari
Merinding di sela tangisan bbidadari

Dalam kata yg sudah kurangkai
Banyak maknakepedihan yg memang sudah ter koyak
Merangkak, terbaring, merintih dan susah di akhiri
Aku diam ,berfikir hendak berlari, karena main hati

Aku, dia dan mereka
Mereka, dia dan aku
Atau si penggoda. Dengan basah di pojok sana
Adilkah....

Gatal rasanya hati ini hendak ku gores dengan kuku hitamku
Penyebab infeksi otak cinta ini bukan dia
Karena aku ta' bisa membawa hati
Fikiran sekarang hanya berbentuk jaring dari kertas


Melompat kesana kemari
Melambai meminta simpati
Melolong seprti anjing tanpa pedati
Diam, bohong, dusta, dan merintih

Dimana kau Tuhan yg selama ini aku berhasrat
Dimana kua Tuhan yg selama ini aku berfirasat
Malaskah kau dengan tobatku yg basi
Atau menonton dengan akhir yg berbuih

Pernah hanya sebentar aku suci
Pernah hanya sebentar aku ingin ke tanah suci
Setidaknya rasa itu ada...
Namun tiada ketika aku sudah tidak adil lagi.
 
Tuhan pergi Meninggalkan rumahnya
 
 Befikir di pojok dapur
Aku tersengal dengan separuh nafas ini
Hati hanya berdetak seperlunya
Ada hasrat yg terpendam dalam tanah basah bekas hujan tadi sore

Situasi sulit ini benar2 menjamahku
Setiap inci dari tubuh ini
Dari kaki sampai tengkorak ku yg pegal setiap waktu
Rasa ini merajai...

Aku yg bukan aku lagi ini
Menerawang masa depan yg curam di ujung gerbang
Menghantui nafas, jari jemari dan kulit ari
Memahami, menekuni, semua kesalahan dan jadi intuisi yg pudar karena jendelanya mati

Aku bukan aku lagi.
Yang selalu merasa kurang, hina, berdosa
Dan tak' layak ada


Aku dengan hasrat yg tidak mampu
Melayang dengn bulu2 yg ku cabuti
Menerjang dengn paruh yag sedikit retak dan berganti
Melihat arah matahari dan akhirnya mati sendiri

Ter kubur dalam kubangan lumpur
Di kerumungi sejenis pemikiran
Aku tidak mampu
Aku masih belum mampu

Aku di hadapkan pada Do'a ibu yang simalakama
Aku menjadi dirinya
Bukan salah nya tapi ini
Konsekwensi dari adanya Do'a baik namun salah Waktu,tempat,dan berakibat aku jadi manusia setengah.

Setengah dewasa,
Setengah hidup
Setengah ilmu
Dan setengah pemikiran

Jangan biarkan aku berkicau
Jangan biarkan aku berikan tanda
Untuk sendiri
Dan kematian aku yg mulai terasa
 
 
 
 




Selasa, 20 November 2012

ANJING !!!!!!

Sesaaat  aku terdiam dalam ruang gelap kamar yg temaram karena memang lampu yg aku matikan.....
menerawang teringat khayalan kemarin sore yg sampai saat ini menghantui
semua sudah di luar jalur dan sudah tidak seharusnya
sehingga saat semua tidak berjalan dengan sempurna yg ada cuma marah dan emosi yg menguasai.....
berkata kasar juga percuma
yang ada hanya gemuruh getaran dada yg sesak karena menahannya
mau nangis tapi malu karena usia
lebih baik menulis mungkin bisa sedikit mengurangi emosi yg terlanjur mengalir keluar dan menguap seperti asap........ ANJING........!!!!!

Selasa, 07 Februari 2012

fotografer akhirat

hari ini tepatnya hari rabu, tanggal 08, feb, 2012
masih dalam lingkungan yang sama masih terjerumus dalam kepura2an yg menganga
hidupku kini sudah baru....
semua kini aku sudah punya ....
rumah hampir jadi, kamera sudah ada 2 unit putri juga 2

Selasa, 11 Oktober 2011

ayahku hebat tapi jahat

Ketika bicara dengan nada itu seketika itu juga aku teringat akan pola asuh yg di berikan dia bicara kasih sayang, di bicara kekeluargaan, dia bicara cinta, tapi semua bertolak belakang dengan keadaan riill nya . Kenal kah dia dengan sodaranya? Kenalkah dia dengan adiknya, bangunan itu sering bercerita... Rumah itu gambaran dari sikapnya.. Dulu mungkin aku coba untuk lebih lemas dan lentur dulu memenag aku pernah sedikit flrxible tapi semua sudah kupelajari dari sikapmu pola asuh mu yg membatasi membelenggu dan mengasingkan diri dengan yg lain...aku bisa sayang mereka mungkin andai aku bukan terlahir dari benihmu, aku bisa jadi bijaksana kalau lahir bukan dari kasih sayangmu yg kaku.. .... Mungkin kau ingat adikku yg begitu kaku... Mungkin kau ingat adikku yg begitu berani dengan ku.. Sadar tidak sadar semua hasil dari pola asuh mu... Darah ini banyak yg tercampur dengan darahmu,, sifat ini banyak yang menuruni gayamu. Aku hanya lukisan dari bayangannmu yg selalu menghantui mu .... Siapa yg tidak sayang dengan ayahanda... Apalagi ibunda... Tapi ingat lah bahwa aku lahir.aku hidup, aku bicara, aku bersikap. Semua itu adalah pencerminan bayangan mu yg selalu kau sesali sepanjang waktu kau d dunia...

Minggu, 28 Agustus 2011

kumpulan note

Tersadar
By Hendra Adi Putra Achmad

Ketika mata ini melihat ke sekeliling dah berhenti di satu titik aku termenung.
Aku terdiam seketika
ternyata sudah mulai timbul guratan2 usia di sekelilingku
entah dari kemarin atau baru hari ini lukisan itu muncul
aku masih terpesona dengan termakan nya usiaku
terdiam sementara dan memutar waktu sedikit ke belakang....
Yang ada hanya senyum2 sendiri tanpa arti
aku yang sudah beranjak kepala3
tapi masih ingkar dengan kerutan yang ada
aku yang sudah ber anak 2 masih ragu akan usia senja yang pasti menerpa
........ga sadar.......

sampah
By Hendra Adi Putra Achmad

Sampah tahun baru mengotori semuanya
Lagit, tanah, udara dan pikiran
Katanya sich tahun ini bakalan lebih baik dari tahun kemarin.
Tapi yang jelas tahun ini lebih berisik dari tahun yang lalu
Itu semua adalah tanda bahwa awal tahun ini orang mulai lupa bahwa keheningan dalam doa lebih penting daripada keramaian sampah tahun baru dengan polusi yang mengotori birunya langit di awal tahun ini.
Aku yang sudah terlelap tersentak ketika suara bising itu menghantui

Jangan lagi
By Hendra Adi Putra Achmad

Tiba2 saja aku merinding
mungkin teringat di kegelapan waktu meraba kamu
tiba2 saja keringat keluar dari rongga telapak tangan ku hingga sukar di gunakan untuk menggenggam
tiba2 saja terlintas bayangan kesalahan yang menyenangkan dan rindu untuk berbuat lagi
setan benar2 telah menguasai setiap celah dari ragaku
ingin ini, ingin itu....
Harum tubuhmu pernah sempat melekat di kulitku .
Tapi cuma sementara
tah sekarang ini rindu atau nafsu yang menguasaiku yang jelas
semua itu hanya sekian banyak dari kesalahan ku yang berhasil aku simpan rapat.....


rofile⁠⁠Friends⁠⁠Messages (27)⁠

Setengah waktu kematian yang menunggu
By Hendra Adi Putra Achmad

Tanpa sadar detik bergerak mengikuti perkembangan yang tanpa terasa berayun
saya menyelinap diantara ribuaan orang yang berlalulalang di pasar kehidupan..
Tak terduga semua kebutuhan dan impian yang kadang tiba2 terwujud di iringi sisa usiaku yang sebentar lagi menutup
terbesit kata 'belum ada yang bisa buat mereka bangga'
masih disini dalam tempurung kosong,dekil dan mulai reot, dan akan ters disini.
Saya ini bernyali tapi takut akibat yang terjadi.
Pengalaman masih dangkal tapi seolah bisa membelah bumi.
Masih membenci keadaan yang tak pasti meski tau itu tidak abadi.
Tuhan....
Maha agung, Pemurah, Pemaaf, Penyayang.... Tolonggggg aku untuk bisa lebih baik lagi.


Deru nafas kematian
By Hendra Adi Putra Achmad

Sedikit ulah yang berawal dari kesadaran yang semu
membuat manusia malas untuk berfikir walau setengah
hanya terdiam dan langsung membara tanpa sadar akibat dari semua
sombong seolah mengerti semua padahal hanya setitik pun tidak
aku yang terdiam dalam kebodohanku meratap dengan nafsu sisa cumbuan semalam yang belum tuntas
sadar sedikit terbayang
seperti alat masak mini yang digunakan menanak nasi dan sayur basi
tuhan dalam hati kecil ini selalu ada rasa dan do'a agar semua mahluk bumi di ampuni dosanya


Negeri kematian
By Hendra Adi Putra Achmad

Sadarkah kalian bahwa sekarang ini manusia sudah tidak perduli dengan moral
ketika melihat bukan dengan mata hati lagi tapi dengan emosi
melihat bukan dengan kasih lagi tapi dengan aksi brutal yang kental
kadang masalah dibuat bukan karena konflik semata tapi memang di pelihara dan di jaga hingga panen nya tiba maka meraja lela
banyak bayi2 suci yang lahir terpaksa dengan cara di yang bukan sewajarnya mungkin karena mereka malu dengan keadaan semesta alam
aku yang tersadar dengan seketika mulai mengerutkan dahi
dan menggeram semua akan hancur dengan sendirinya
dan semua orang akan mendewakan emosi jiwanya hingga sadar setelah hancur berkepanjangan.


Aku yang mendambamu
By Hendra Adi Putra Achmad

Pada saat hari hujan dengan petir menggelegar
aku terlindung dalam selimut merah jambu yang hangat
dalam perjalanan ku yang biasa saja aku menemukan banyak kebaikan yang masih biasa saja
aku ingin sedikit perasaan marah
takut, benci, dendam, namun takut juga menjalaninya
mungkin hidup tanpa pendewasaan bagai berlayar tanpa layar
sedikit malu untuk di terbitkan
bulatan roda dengan jari2 itu masih memandangiku dan berkata
kidup itu pilihan antara
pendewasaan dengan konflik
atau keteraturan dengan biasa saja


Takut
By Hendra Adi Putra Achmad

Merinding sebentar karena salah
sesak penuh udara yang terperangkap dalam rongga air yang kusiramkan
aku bersandar di pojol parkiran hati
curiga setiapkali ada yang berbisik
takut kalau2 nanti semua bersuara
mengadu, meracau, menghujat,menghantam dan mengancam
hampir saja semua trcecer .
Ingin ku obral dan kusingkirkan menuju kebaikan hati yang suram ini


Bersyukur
By Hendra Adi Putra Achmad

Sempat menangis sesaat ketika masih dalam perjalanan menuju aktivitas normal
tersadar akan dosa yang baru hari kemarin dilakukan dengan bangga
berdo'a dengan harapan yang bagus2 denagn badan yang kuyup oleh keringat saat berbohong kemarin
aku terdampar dalam ruang kosong dengan harum bunga kematian
masih bersama aku yang mencoba tenang dengan harapan jangan ada yang seperti kemarin lagi
jangan kau usik ke setianku
jangan kau sandarkan hidupmu pada kebohongan ku lagi
sudah biarkan fikiran baik ini merajai alam semesta hati kecilku yang selalu baik
kutunggu kau di lain hari dengan kebohongan yang pasti akan berlanjut ketika imanku copot dari sendiku yang lumpuh


no title
By Hendra Adi Putra Achmad

ke kuatan benteng dalam pertahanan hati ku yang dalam
terusik oleh berisiknya suasana alam yang dingin ta'menentu
ngilu dari ototku membuat ku malas beranjak dari petilasan ku yang sudak kumuh
aku bangun lalu terdiam kemudian tertidur lagi
berkali-kali ku geliatkan tubuhku yang sudah tidak se-sexy dulu menggeliat hingga darahku kembali ke hausan dengan sentuhan oksigen dingin di pagi ini
terlihat batang pohon palm yang sedari tadi menari2 kini mulai menggigil karena kebasahan gerimiz yang tak kunjung reda
aku masih meringuk di peraduan ku yang masih kumuh dan sedikit lembab karena kebocoran
kupaksakan dengan sedikit nyali dan teriring tubuh yang merinding di sertai bulu kuduk yang berdiri rapih seperti prajurit kalah perang
aku terjebak juga dalam remang kamarmandi yang membuatku malas membuka baju kaos ku ini
dengan sedikit gemetar kusiramkan air dalam bak mandi yang sejak kemarin masih tersisa karena mati lampu..
badan ku serasa meledak mana kala air itu menyentuk kulit ariku yang mulus ini berrrrrrrrr
kutarik kembali handuk yang sudah menggantung dari tadi ....... dalam hariku berkata
"mending ga usah mandi aja dech ga ketauan ko'"
setelah pertarungan di kamar mandi selesai akhirnya aku memutuskan diri berangt menuju tempat kerja ku yang kurang lebih 10 menit jika menggunakan motor
dalam perjalanan aku lihat ada genangan air yang menyerupai telaga kecil namun berair keruh di sana aku berkaca ' dan tertulis dalam hati ku
' apa yang kamu bawa ?
'apa yang akan kamu berikan?
'ketika berangkat ber aktivitas dengan santai


Ikhlaz
By Hendra Adi Putra Achmad

Dalam ke angkuhan se orang dermawan mengharap kejatuhan cawan dengan emaz murni penuh mencair d dalam nya
aku tertegun dengan pandangan semu sambil menahan dada yang hampin pecah...
Kata makian sebenarnya sudah keluar tapi cuma d dengar sendiri. Kesedihan tidak dengan air mata sudah menguat bersama kringat dingin dari pori2 kaki ku yg kotor berdebu... Biar aku saja yg merasakan kebodohan tubuh dan otak ku... Jari ini berjalan ke setiap sudut huruf dengan perintah otak yg murka...
Hampir saja amarah ini aku siram kan pd bidadari2 cantik ku...
Klebatan wajah ibliz itu tertawa dengan taring yg berwarna ke emasan ...
Aku masih termenung d dunia ku yg pekat...
Masih sesak
dicoba berlapang asa... ....


Terlelap
By Hendra Adi Putra Achmad

Terlelap dalam keindahan harum tubuhmu yg kadang hambar seperti menjilat kembang gula seharian dengan lidah yg sama.
Merambat ke arah yg dulu terasa nikmat d sentuh sperti kecanduan bahkan terbawa mimpi dan terwujud , ingin lagi dan lagi hingga merinding mengingatnya.
Sebenarnya bukan hambar hanya saja sedikit hilang rasa takut kehilangan..
Takut kehilangan masih ada hingga jantung ini terasa ke habisan waktu untuk berdetak..
Aku bertopang dagu bahkan kepala, seperti tanpa extra tenaga... Hanya terbawa bayangan ingin bercinta dengan uang hasil dari keringat yg dari dulu asin rasanya
helaan nafas ini bukan simbol ter capainya cita,dan cinta..
Hanya saja masih dalam slimut ketakutan yg kalau kita keluar dari sana akan mengelupas kulit arinya...
Tipis sangat tipis...
Kehilangan arah kiblat ...
Kejatuhan sesuatu yg blum jatuh.
Sadar diri tapi diam tanpa kata dan gerakraga
menunggu keluarnya jantung ini dari rongga dada yg tidak lapang lagi .
Aku masih bermain dengan dadu warna yg tak pernah bisa sama warna karena gerak dari tangan ini selalu ter sasar salah arah..
Ha.ha.ha
tertawa krna teringat dosa putih yg d nilai sendiri ...
Motivasi menjadi basi.
Kreasi menjadi mati suri dan kapan hidup lg masih nanti..
Salah hidup it tdak mungkin
yang jelas ini cuma skenario... Dari dalang yg sampai saat ini aku tak tau bertengger dimana..


Tulisan singkat seorang kuli
By Hendra Adi Putra Achmad

Terdiam d sebelah tembok dengn sbatang roko' dan coffemix yg masih sama rasanya seperti dulu.
Tertegun dengan angan yg melambung sperti tanpa arah namun tetap tersiksa...
Masih d tmpat yg sama ...
Mengharap ke jatuhan genting dari kaca.
Oh indah...
Sangat indah
masih d jalan yg berkarat menyusuri menuju musholah tua dengan tanpa penghuni
hanya sesekali terlihat klebatan sinar, yg entah itu manusia atau setan alas yg iseng lewat..
Menghadap arah utara dengan melihat layar kehidupan yg merangkak naik menambah usia.
Ter sengal2 nafasku di sambut keringat yg brdesakan keluar dari rongga poriku yg perawan..
Hidup menang melelahkan tapi itulah karunia.. Nikmati
rasakan
maka akan ada spirit yg terbang melayang menuju nirwana yg masih sulit d percaya.
Jari2 ini masih bergerak bingung mengikuti perintah otak yg masih labil dan kosong...
Oktober pada saat bayi2 merangkak membesar melahirkan aku yg labil namun egoiz.. Terimakasih telah melahirkan aku dalam duniat keteraturan...
Terimakasih telah menuntunku dalam harmonisasi ke insyafan.


Merasa kehilangan
By Hendra Adi Putra Achmad

Kurasa ada yg hilang dari sedikit bahagia itu
kurasa memang hilang atau berlalu
rasa dan bahasa tubuhmu masih terlalu basah
semerbak harum itu menghampiri d kesendirian.
Sayang dan amat d sayangkan bila kau teruz berlalu
tanpa menoleh k blakang.
Kharisma d dirimu begitu menyengat
dalam urat2 ke sendirian ku.


Kesendirian
By Hendra Adi Putra Achmad

Masih di remang temaram lampu kamar yg redub.'
Masih di dalam duniaMu yg luas ta' terbalaz.
Merenung dalam, menangiz tersedu, menanti datangnya kehidupan ke 2.
Aku ini kura2 yg tak punya bulu,hingga tak dapat menangis
aku juga bukan hiu yg dapat melayang d udara dengan perkasa
aku ini benda mati yg kadang ta' menggunakan hati dalam beraksi
ego menjadi sahabat ...
Sampai lupa arah ke kiblat
semua melebur
tampak ta' teratur
menjadi tersadar pada saat telah be' umur..


Ampuni aku
By Hendra Adi Putra Achmad

Disaat mata ini terpejam
hati ini terbuka mendengar suara Mu..
Jangan biarkan bau itu teruz menyengat
disela ke sedihan tiada ter bataz
aku tau rasanya kehilangan orang tercinta....
Sesak.....
Pedih....
Seperti tertindih beban tanpa ukuran...
Ampuni aku Tuhan
dan semua penghuni bumi yg Tamak ini...


Rabu, 24 Agustus 2011

keindahan yang tergeletak d tempat sampah

Masa ini mungkin bukan zaman nya lagi berbagi.
Saat ini mungkin bukan waktunya lagi perduli.
Karena setiap sendi dari hidup ini sudah kaku oleh usia. Malah kadang terasa berat untuk sekedar d renggangkan..
Kisah ini bermula ketika seorang pemuda bingung dengan impiannya mencoba sekolah setinggi - tingginya, sementara dia tidak mengerti tujuan hidup yang sebenarnya untuk apa???
SD " sekolah dengan berjalan kaki menyusuri waktu dan sedikit melewati rel kreta api yg swaktu2 bisa saja membuatnnya kaku.
SMP " menerawang sedikit agak jauh dan banyak musibah yang kadang masih sulit di cerna oleh akal budi.
SMA " mengenal cinta dan melakukan pergulatan dengan ganja dan sejenisnya menerobos batas2 norma menbuat dosa2 yg katanya indah namunt tergeletak di tempat sampah
Kuliah " pikiran, hati dan jiwa yg labil mencoba dewasa dengan sedikit terpaksa. Mencoba bermakna untuk sekitar tapi malah terjerumus dalam aturan kaku sebuah organisasi palsu tempat para pemuja melakukan akivitas moderatnya
Menikah. " Terpaksa karena memeng di paksa dengan sedikit ancaman berupa tandatangan di perjanjian seolah itu semua merupakan kontrak dengan sesama padahal menikah itu merupakan tujuan hidup serta mengemban amanah dari yang kuasa' katanya'
Kerja. " Saaat mendapat penghasilan yg luar biasa mencoba menjadi manusia dewasa yg sebenarnya masih sering meminta. Merasa di perkosA oleh budaya pekerjaan yag sedikit extreem. Dari situ dosa2 mulai terkumpul lebih banyak lagi... Selingkuh, judi, dan yang lainnya menjadi indah karena merasa di halalkan
Kembali kuliah. " Bertemu dengan manusia2 moderat yang coba sedikit di racuni oleh tingkah laku lama yang masih membekas... Kasian mereka"
Kembali kerja " masih dalam dunia kerja dengan lingkungan yang berbeda dengan kondisi yang belum dewasa . Nafsu dengan yang muda2 dan terulang lagi kesalahan yg sama
Kuliah lagi " masih belum tau mau apa???? Dan bagaimana??? Karena mungkin ini awal dari kedewasaa seorang laki2 yang prematur seperti keindahan yag tergeletak di tempat sAmpah!

Selasa, 06 April 2010

masa kecil diatas pohon jambu batu

aku terlahir dari keluarga yang biasa2 saja, sederhana, taat kepada agama, dan beruntung karena melimpah kasih sayang di antara kami sekeluarga......
aku adalah anak ke 2 dari 4 bersaudara kakak ku yang pertama perempuan yang sekarang tinggal bersama suaminya di daerah kota, sementara adikku yang pertama sudah mengikuti suaminya juga dan adik ku yang terakhir