lagi...
Materi menghantuiku di kesulitan ini
Mereka merajai di kekhilafan yg menunggu pagi
Langkah itu melompat2 riang memanggil lirih
Aku menangis di hatiku yg putus asa
Kau ada dan memang ada
Ini dosa....
Deretan warna merah ini memaklumi ku yg sempoyongan
Tingkat pemikiran ini menghujamku
Membawaku ke masa dimana semua hujau membara
Ingin kembali namun rasa hancur pasti terlihat
Ingin mati tapi kau memanggilku memaksa aku pulang
Aku pasti pulang
Aku pasti terhanyut
Ada 4 hati yg bersarang di pelaminan berwarna itu
Ada 2 dunia yg kering dan tak bisa d perbaiki
Aku bukan perumpamaan
Ini jalanNya
Pernah sempat rindu kesucian menuntun ku
Dulu pernah tak kuasa menolak kewajibanMu
Mengalir dalam riak angan yg melambung
Dan tersangkut di cahaya mentari sore hari
Ada bagian kecil yg terlupakan
Ada doa terselit diantara haramnya darah ku
Ada sedikit k alfaan ketika bersimpuh
Ingin mati saja bersama keheningan
Aku dan setiap keheningan lagu ini
Mencoba menabur angan
Aku dan setiap ke terpurukan ini tersenyum
Terbesit rasa tak percaya oleh semua yg ada
Aku bukan boneka monyet yg kadang menyusahkan
Aku juga masih merasakan kecupan kehidupan yg menganga
Aku disini dengan aroma kopi basi tadi pagi
Aku melihat setiap kolong dari kursiMu
Ini situasi yg di buat oleh peluh yg bercucuran
Ketika kau ada di atasku
Memahami ke indahan rasa yg semua hanya nfsu
Yg dari dulu begitu2 saja
Jangan kalian lihat aku sebagai aku
Membuka dunia baru dari semua yg ada
Melihat nuansa biru di dominannya merah jambu
Yg ada hanya abu2 dan kelabu
Menunggu janji dari kehidupan yg masih blum di mengerti
Menunggu ke baikan dari hati penyihir cinta
Menanyakan nasip
Menanyakan bengkak nya hari ini
Ada dalam hati ini kebahagiaan yg tertindas
Ada dalam hati ini keinginan membunuh ke sendirian ku
Aku yg selalu sperti ini
Aku yg memang dr dulu tak punya sahabat
Pengap perasaan ini
Basah yg tadinya di iringi rintik kemaluan mu
Aku melihat
Aku terbuai
Adalah kamu dalam kehancuranku
Segera kembali
Segera mati
Segera tersdar aku hanya mainanmu yg sudah tak zaman lagi
Semua hilang di telan mistik yg merajai
Aku bukan gaib
Nyata, terasa, dan pasti binasa
Barisan angka dalam kesendirian ku melekat
Menunggu jari2 ini menunjuk
Jemuran dimalam hari ini menemaniku besama tetesan keringat di salam sholatku
Tadi siang di rumahMu
Disini menemani ari2ku yg mungkin sudah kering
Disini dengan hujatan para pembenar
Melihat tingkahku dari hijaunya langit di tengah hari
Memelukku seolah aku masih di bawah pusarmu
Melihat tumpukan kringat hasil kerja dari muda
Pandai yang engkau mau
Tak pernah terwujud ketika lembaran Raport masalalu menganga
Foto2 itu membiusku menuntun ku
Hendak reinkarnasi dari yg dulunya manusia
Menjadi tumpukan sendal jepit yg selalu hilang di subuh hari karena basah
Aku masih bicara tentang aku
Mentah....
Dan tidah akan pernah dewasa
Hijau dan busuk disini
Melawan yg kolotnya tak terperih
Aku merasa tidak terkalahkan oleh undur2 yg berjalan mundur
Aku merasa hebat sementara di sekelilingku hanya larva nyamuk yg hina
Akubagai kan jeruji jari2 speda karat yg menunggu giliran di bawah
Menamaksa dan perlu tenaga untuk kembali ketatas dan akhirnya memang berputar lagi
Tempat sampah merah mungkin jadi inspirasi
Dia lebih berguna
Menjadi onggokan dan pertemuan antara barang2 yg tak berguna
Aku masih bicara tentang aku
Dunia sana menunggu
Alam sama berharap
Aku bisa ada di lantai dua rumahnya yg bersih dan bergema
Aku sendiri berharap bisa menghentikan waktu
Dan memilih siapa saja yg boleh ada. Dan menari di samping kiri kananku
Entah ini fase apa dalam kehidupan wayang
Dengan dalang yg dulu kolot bersenjata sendal terbang
Aku kalah 10 langkah
Aku jauh tertinggal 100 kata
Ada persamaan dari dirinya
Namun 1000 perbedaan dari luarsana
Aku masih bicara tentang aku
Sekarang, disini, disini dan disini
Menjadi yang di adili
Sendiri memaknai jalan kepenatan ini
Terbaring d antara curamnya usia yg beranjak
Terbangun diantara bangkai keturunan sedarah
Menangis pun sudah ta' pasrah lagi
Aku masih ada tapi melayang antara hidup dan mati
Aku masih bernafas tapi merintih mencari udara
Aku yang berselimut kulit ari
Merinding di sela tangisan bbidadari
Dalam kata yg sudah kurangkai
Banyak maknakepedihan yg memang sudah ter koyak
Merangkak, terbaring, merintih dan susah di akhiri
Aku diam ,berfikir hendak berlari, karena main hati
Aku, dia dan mereka
Mereka, dia dan aku
Atau si penggoda. Dengan basah di pojok sana
Adilkah....
Gatal rasanya hati ini hendak ku gores dengan kuku hitamku
Penyebab infeksi otak cinta ini bukan dia
Karena aku ta' bisa membawa hati
Fikiran sekarang hanya berbentuk jaring dari kertas
Melompat kesana kemari
Melambai meminta simpati
Melolong seprti anjing tanpa pedati
Diam, bohong, dusta, dan merintih
Dimana kau Tuhan yg selama ini aku berhasrat
Dimana kua Tuhan yg selama ini aku berfirasat
Malaskah kau dengan tobatku yg basi
Atau menonton dengan akhir yg berbuih
Pernah hanya sebentar aku suci
Pernah hanya sebentar aku ingin ke tanah suci
Setidaknya rasa itu ada...
Namun tiada ketika aku sudah tidak adil lagi.
Mereka merajai di kekhilafan yg menunggu pagi
Langkah itu melompat2 riang memanggil lirih
Aku menangis di hatiku yg putus asa
Kau ada dan memang ada
Ini dosa....
Deretan warna merah ini memaklumi ku yg sempoyongan
Tingkat pemikiran ini menghujamku
Membawaku ke masa dimana semua hujau membara
Ingin kembali namun rasa hancur pasti terlihat
Ingin mati tapi kau memanggilku memaksa aku pulang
Aku pasti pulang
Aku pasti terhanyut
Ada 4 hati yg bersarang di pelaminan berwarna itu
Ada 2 dunia yg kering dan tak bisa d perbaiki
Aku bukan perumpamaan
Ini jalanNya
Pernah sempat rindu kesucian menuntun ku
Dulu pernah tak kuasa menolak kewajibanMu
Mengalir dalam riak angan yg melambung
Dan tersangkut di cahaya mentari sore hari
Ada bagian kecil yg terlupakan
Ada doa terselit diantara haramnya darah ku
Ada sedikit k alfaan ketika bersimpuh
Ingin mati saja bersama keheningan
Aku dan setiap keheningan lagu ini
Mencoba menabur angan
Aku dan setiap ke terpurukan ini tersenyum
Terbesit rasa tak percaya oleh semua yg ada
Aku bukan boneka monyet yg kadang menyusahkan
Aku juga masih merasakan kecupan kehidupan yg menganga
Aku disini dengan aroma kopi basi tadi pagi
Aku melihat setiap kolong dari kursiMu
Ini situasi yg di buat oleh peluh yg bercucuran
Ketika kau ada di atasku
Memahami ke indahan rasa yg semua hanya nfsu
Yg dari dulu begitu2 saja
Jangan kalian lihat aku sebagai aku
Membuka dunia baru dari semua yg ada
Melihat nuansa biru di dominannya merah jambu
Yg ada hanya abu2 dan kelabu
Menunggu janji dari kehidupan yg masih blum di mengerti
Menunggu ke baikan dari hati penyihir cinta
Menanyakan nasip
Menanyakan bengkak nya hari ini
Ada dalam hati ini kebahagiaan yg tertindas
Ada dalam hati ini keinginan membunuh ke sendirian ku
Aku yg selalu sperti ini
Aku yg memang dr dulu tak punya sahabat
Pengap perasaan ini
Basah yg tadinya di iringi rintik kemaluan mu
Aku melihat
Aku terbuai
Adalah kamu dalam kehancuranku
Segera kembali
Segera mati
Segera tersdar aku hanya mainanmu yg sudah tak zaman lagi
kosong
Aku sudah tidak punya rasa
Semua hilang di telan mistik yg merajai
Aku bukan gaib
Nyata, terasa, dan pasti binasa
Barisan angka dalam kesendirian ku melekat
Menunggu jari2 ini menunjuk
Jemuran dimalam hari ini menemaniku besama tetesan keringat di salam sholatku
Tadi siang di rumahMu
Disini menemani ari2ku yg mungkin sudah kering
Disini dengan hujatan para pembenar
Melihat tingkahku dari hijaunya langit di tengah hari
Memelukku seolah aku masih di bawah pusarmu
Melihat tumpukan kringat hasil kerja dari muda
Pandai yang engkau mau
Tak pernah terwujud ketika lembaran Raport masalalu menganga
Foto2 itu membiusku menuntun ku
Hendak reinkarnasi dari yg dulunya manusia
Menjadi tumpukan sendal jepit yg selalu hilang di subuh hari karena basah
Aku masih bicara tentang aku
Mentah....
Dan tidah akan pernah dewasa
Hijau dan busuk disini
Melawan yg kolotnya tak terperih
Aku merasa tidak terkalahkan oleh undur2 yg berjalan mundur
Aku merasa hebat sementara di sekelilingku hanya larva nyamuk yg hina
Akubagai kan jeruji jari2 speda karat yg menunggu giliran di bawah
Menamaksa dan perlu tenaga untuk kembali ketatas dan akhirnya memang berputar lagi
Tempat sampah merah mungkin jadi inspirasi
Dia lebih berguna
Menjadi onggokan dan pertemuan antara barang2 yg tak berguna
Aku masih bicara tentang aku
Dunia sana menunggu
Alam sama berharap
Aku bisa ada di lantai dua rumahnya yg bersih dan bergema
Aku sendiri berharap bisa menghentikan waktu
Dan memilih siapa saja yg boleh ada. Dan menari di samping kiri kananku
Entah ini fase apa dalam kehidupan wayang
Dengan dalang yg dulu kolot bersenjata sendal terbang
Aku kalah 10 langkah
Aku jauh tertinggal 100 kata
Ada persamaan dari dirinya
Namun 1000 perbedaan dari luarsana
Aku masih bicara tentang aku
Sekarang, disini, disini dan disini
Menjadi yang di adili
Sendiri memaknai jalan kepenatan ini
Terbaring d antara curamnya usia yg beranjak
Terbangun diantara bangkai keturunan sedarah
Menangis pun sudah ta' pasrah lagi
Aku masih ada tapi melayang antara hidup dan mati
Aku masih bernafas tapi merintih mencari udara
Aku yang berselimut kulit ari
Merinding di sela tangisan bbidadari
Dalam kata yg sudah kurangkai
Banyak maknakepedihan yg memang sudah ter koyak
Merangkak, terbaring, merintih dan susah di akhiri
Aku diam ,berfikir hendak berlari, karena main hati
Aku, dia dan mereka
Mereka, dia dan aku
Atau si penggoda. Dengan basah di pojok sana
Adilkah....
Gatal rasanya hati ini hendak ku gores dengan kuku hitamku
Penyebab infeksi otak cinta ini bukan dia
Karena aku ta' bisa membawa hati
Fikiran sekarang hanya berbentuk jaring dari kertas
Melompat kesana kemari
Melambai meminta simpati
Melolong seprti anjing tanpa pedati
Diam, bohong, dusta, dan merintih
Dimana kau Tuhan yg selama ini aku berhasrat
Dimana kua Tuhan yg selama ini aku berfirasat
Malaskah kau dengan tobatku yg basi
Atau menonton dengan akhir yg berbuih
Pernah hanya sebentar aku suci
Pernah hanya sebentar aku ingin ke tanah suci
Setidaknya rasa itu ada...
Namun tiada ketika aku sudah tidak adil lagi.
Tuhan pergi Meninggalkan rumahnya
Befikir di pojok dapur
Aku tersengal dengan separuh nafas ini
Hati hanya berdetak seperlunya
Ada hasrat yg terpendam dalam tanah basah bekas hujan tadi sore
Situasi sulit ini benar2 menjamahku
Setiap inci dari tubuh ini
Dari kaki sampai tengkorak ku yg pegal setiap waktu
Rasa ini merajai...
Aku yg bukan aku lagi ini
Menerawang masa depan yg curam di ujung gerbang
Menghantui nafas, jari jemari dan kulit ari
Memahami, menekuni, semua kesalahan dan jadi intuisi yg pudar karena jendelanya mati
Aku bukan aku lagi.
Yang selalu merasa kurang, hina, berdosa
Dan tak' layak ada
Aku dengan hasrat yg tidak mampu
Melayang dengn bulu2 yg ku cabuti
Menerjang dengn paruh yag sedikit retak dan berganti
Melihat arah matahari dan akhirnya mati sendiri
Ter kubur dalam kubangan lumpur
Di kerumungi sejenis pemikiran
Aku tidak mampu
Aku masih belum mampu
Aku di hadapkan pada Do'a ibu yang simalakama
Aku menjadi dirinya
Bukan salah nya tapi ini
Konsekwensi dari adanya Do'a baik namun salah Waktu,tempat,dan berakibat aku jadi manusia setengah.
Setengah dewasa,
Setengah hidup
Setengah ilmu
Dan setengah pemikiran
Jangan biarkan aku berkicau
Jangan biarkan aku berikan tanda
Untuk sendiri
Dan kematian aku yg mulai terasa
Aku tersengal dengan separuh nafas ini
Hati hanya berdetak seperlunya
Ada hasrat yg terpendam dalam tanah basah bekas hujan tadi sore
Situasi sulit ini benar2 menjamahku
Setiap inci dari tubuh ini
Dari kaki sampai tengkorak ku yg pegal setiap waktu
Rasa ini merajai...
Aku yg bukan aku lagi ini
Menerawang masa depan yg curam di ujung gerbang
Menghantui nafas, jari jemari dan kulit ari
Memahami, menekuni, semua kesalahan dan jadi intuisi yg pudar karena jendelanya mati
Aku bukan aku lagi.
Yang selalu merasa kurang, hina, berdosa
Dan tak' layak ada
Aku dengan hasrat yg tidak mampu
Melayang dengn bulu2 yg ku cabuti
Menerjang dengn paruh yag sedikit retak dan berganti
Melihat arah matahari dan akhirnya mati sendiri
Ter kubur dalam kubangan lumpur
Di kerumungi sejenis pemikiran
Aku tidak mampu
Aku masih belum mampu
Aku di hadapkan pada Do'a ibu yang simalakama
Aku menjadi dirinya
Bukan salah nya tapi ini
Konsekwensi dari adanya Do'a baik namun salah Waktu,tempat,dan berakibat aku jadi manusia setengah.
Setengah dewasa,
Setengah hidup
Setengah ilmu
Dan setengah pemikiran
Jangan biarkan aku berkicau
Jangan biarkan aku berikan tanda
Untuk sendiri
Dan kematian aku yg mulai terasa